Meningkatkan PHBS Untuk Santri 


Penyakit kulit salah satu penyakit yang sering dijumpai di lingkungan pesantren. Perilaku hidup bersih dan sehat dalam sebuah tempat yang dihuni banyak orang kerap mengabaikan hal ini akibat kurang disiplin dalam hal kebersihan. Banyak santri atau santriwati berangkat dari rumah menuju pondok pesantren dalam keadaan sehat, namun tatkala kembali ke rumah masing-masing kebanyakan mereka menderita penyakit kulit seperti koreng, panu dan lain-lain.

Hal ini,  kerap terjadi diberbagai pondok pesantren. Meskipun beberapa jenis penyakit di atas tidak membahayakan, tapi kalau dibiarkan secara terus menerus tanpa ada usaha untuk mengobati bisa berakibat fatal bagi tubuh.

“Kalau kita memahami Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) maka segala bentuk penyakit tidak mudah bersarang dalam tubuh. Begitupun sebaliknya, kesadaran santri juga sangat penting untuk meningkatkan hidup sehat dan bersih” ungkap Sekretaris Dinas Kesehatan NTB, Marjito M.Kes pada pembukaan kegiatan Orientasi Penanganan Kesehatan Untuk Santri, Fave Hotel, Mataram (24/4).

Penyakit gatal-gatal dan penyakit menular lainnya, menurutnya akan cepat menyebar dalam lingkungan pondok, sebab kehidupan mereka dengan jumlah banyak serta dimana-mana selalu bersama, baik di waktu tidur, makan bahkan mandi. Dalam keadaan seperti ini, potensi penyakit menular  akan cepat menyebar tanpa disadari oleh santri pada umumnya.

“Oleh karena itu, kami berharap dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan wawasan baru bagi santri dan santriwati dalam meningkatkan PHBS dalam lingkungan pondok,” harap Marjito sekaligus membuka kegiatan.

Marjito yang pernah menjabat sebagai Plt. Kadis Kesehatan itu menjelaskan, melalui Pos Kesehatan Pondok Pesantren atau Poskestren yang merupakan salah satu upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM), Dinas Kesehatan NTB memandang penting sebagai potensil untuk dikembangkan sebagai mitra dalam pemberdayaan kesehatan masyarakat, mengingat penduduk NTB mayoritas muslim. Poskstren memiliki prinsip untuk meningkatkan kesehatan bagi santri dan santriwati yang tersebar di seluruh provinsi NTB.


“Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan para santri tentang pentingnya kesehatan dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Juga sekaligus menjadi agen perubahan untuk PHBS bagi penghuni pondok maupun kehidupan masyarakat disekitar lingkungan pondok,” tuturnya.

Selama tiga hari ke depan dari tanggal 24 sampai 26 April 2019, seluruh perwakilan santri akan mendapatkan pengajaran tentang kesehatan yang didampingi oleh sepuluh orang tenaga ahli kesehatan dari Dinas Kesehatan yang berkompenten di bidang masing-masing. (Man-Tim Media)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru