Dikes Siapkan Vaksin Untuk Antisipasi Virus Rabies Di KSB

Sumbawa Barat. Diskominfo - Rabies atau yang dikenal dengan istilah “anjing gila” adalah infeksi virus pada otak dan sistem syaraf. Penyakit ini tergolong sangat berbahaya karena berpotensi besar menyebabkan kematian.

Setelah menyerang beberapa warga di Kabupaten Dompu, kini Kabupaten Sumbawa juga dilaporkan telah terjadi 21 kasus gigitan anjing Hewan Pembawa Rabies (HPR) di 9 Kecamatan yaitu Kec. Tarano, Empang, Plampang, Labangka, Sumbawa, Lab. Badas, Lenangguar, Rhee dan Utan. Dari jumlah tersebut telah dilaporkan 4 kasus positif rabies yang terjadi di Kecamatan Tarano.

Dari rentetan kasus yang terjadi, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang jaraknya berdekatan dengan Kabupaten Sumbawa punya potensi terinfeksi virus tersebut, dari hasil laporan warga yang masuk ke Dinas Kesehatan KSB hingga hari ini ada lima kasus gigitan anjing di KSB yaitu di Kecamatan Maluk dua kasus, kecamatan Poto Tano dua kasus dan Kecamatan Taliwang satu kasus.

Selain menyiapkan vaksin anti rabies untuk korban gigitan, Dikes juga akan segera memberikan vaksin terlebih dahulu kepada para tenaga medis dan tenaga penyuluh peternakan yang menangani secara tekhnis binatang pembawa virus tersebut.

“Selain menyiapkan vaksin, kami juga akan mensosialisasikan virus rabies ini di setiap desa dan mensosialisasikan melalui spanduk, baliho, dan ribuan stiker, hal ini kami lakukan agar masyarakat memahami tentang rabies ini.” Jelas Kepala Dinas Kesehatan melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), H. Yusfi Khalid, SKM saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (19/2).

Diungkapkan H. Yusfi, Dikes telah menyiapkan 50 vaksin anti rabies untuk mengantisipasi timbulnya kasus rabies, dan jika ada laporan maka bisa segera ditangani dengan memberikan vaksin anti rabies (VAR). Sejauh ini Dikes telah mendistribusikan (VAR) untuk tiga kecamatan yang memiliki kasus gigitan anjing yaitu lima vaksin di kecamatan Maluk, lima vaksin di kecamatan taliwang dan lima Vaksin di kecamatan Poto Tano.

Menurut H. Yusfi, penanganan kasus ini sangat tergantung juga pada Dinas Peternakan yang mengetahui secara tekhnis penanganan pada bintang-binatang tersebut sehingga virus rabies tidak gampang tertular.

“Kalau Dinas Peternakan bisa menentukan langkah-langkah pencegahan atau langkah-langkah antisipasi pada binatang pembawa virus tersebut maka semuanya akan  beres, kami dari dinas Kesehatan juga akan melakukan hal yang maksimal, kita harus terus bersinergi.” Kata H. Yusfi. Feryal/tifa.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru