Upaya Pemerintah Tangkal Terulangnya Tragedi Pandemi Flu 1918

"Tentara terus berlatih untuk berperang, meskipun perang tidak terjadi lagi. Dan tidak ada yang berharap perang terjadi. Begitupun dengan Pandemi Influenza, tidak ada yang berharap ini terjadi lagi, tetapi kita harus siapsiaga dengan menyusun Rencana Kontijensi," jelas dr. Elly saat mengisi materi dalam penyusunan rencana kontijensi menghadapi pandemi influenza di Mataram NTB, (26-27/9).

100 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1918 wabah flu paling mematikan sepanjang sejarah manusia terjadi di berbagai negara di dunia. Konon, korbannya diklaim lebih dari korban yang jatuh saat perang dunia pertama.

“Sekarang penyebaran virus sangat mudah terjadi melalui udara dari satu negara ke negara lain. Belum lagi virus flu yang dibawa oleh migrasi burung setiap tahunnya,” jelas A. Muchtar Nasir, seorang Nasional Epidemiologist selaku pemateri.

Cepatnya virus influenza menyebar melalui udara terjadi khususnya virus jenis H5N1 atau flu burung yang menular dari unggas ke manusia. Di Indonesia sendiri banyak kasus flu burung telah terjadi. Pada bulan Mei 2007 18 kasus flu burung terjadi karena adanya klister flu burung di Kabupaten Karo. Angka fatalitas (CFR) pada bulan januari-mei 2006, 2007, dan 2008 berurutan adalah 79,4 % (34 kasus, 24 meninggal), 87,5 % (24 kasus, 21 meninggal), dan 83,3% (18 kasus, 15 meninggal).

Kasus kematian karena flu burung dapat diturunkan dengan cara penemuan kasus ini sedini mungkin. Serta adanya tatalaksana kasus yang tepat. “Caranya ya dengan memutus matai rantai penyebaran virus ini secepat mungkin,” imbuh dr. Elly.

Pendemi atau wabah yang telah menyerang antar negara tersebut, bukannya tidak mungkin terjadi lagi. Berkembangnya virus influenza menjadi semakin beragam ditambah dengan penyebarannya yang semakin mudah membuat lembaga kesehatan internasional, nasional, dan daerah sama-sama bekerjasamma membuat tameng pertahanan jika pandemi tersebut terjadi lagi.

Untuk itu, Indonesia telah memiliki Rencana Strategi  Nasional untuk pengendalian Avian Influenza dan Kesiapsiagaan Pandemi Influenza. Di samping itu Indonesia juga telah menyusun pedoman dan petunjuk pelaksanaan (juklak) penanggulangan episenter pandemic influenza.  Pedoman dan juklak tersebut telah diuji coba melalui simulasi di tingkat masyarakat. Rumah sakit dan bandara Internasional di Bali (April, 2008) dan di Makassar (2010) dan terakhir pada tahun 2017 ini. Simulasi dilakukan lintas kementrian dan Lembaga terkait. (novita – tim media)

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru