MUI Nyatakan Vaksin MR Boleh Digunakan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan vaksin Measles dan Rubella (MR) produksi Serum Institute of India (SII) yang sudah digunakan untuk imunisasi di Indonesia boleh dilanjutkan penggunaannya, meski dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi. Pernyataan ini disampaikan Komisi Fatwa (KF) Majelis Ulama Indonesia Dr. K.H. Abdurrahman Dahlan, MA dalam kegiatan pertemuan dan sosialisasi pelaksanaan imunisasi terpadu tingkat provinsi NTB, di hotel Lombok Astoria, Selasa (04/09/18).

Keputusan MUI sesuai dengan Fatwa nomor 33 tahun 2018 memperbolehkan penggunaan vaksin MR ini, setelah mendengarkan beberapa pendapat, saran dan masukan yang berkembang dalam sidang dan Rapat Pleno Komisi Fatwa tanggal 20 Agustus 2018 di Jakarta Pusat.

Hasil dari Fatwa MUI tersebut menyatakan bahwa hukum vaksin MR ini adalah diperbolehkan (mubah) karena ada kondisi keterpaksaan (dlarurat syar'iyyah) dan belum ditemukannya vaksin MR yang halal dan suci."Kami mempertimbangkan mudarat yang ditimbulkan jika tidak diimunisasi menggunakan vaksin tersebut, tentunya ini juga berdasarkan pertimbangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya,"kata Abdurrahman.

Selain itu, MUI juga memberikan beberapa rekomendasi baik untuk pemerintah dan produsen vaksin, diantaranya pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk imunisasi bagi masyarakat, produsen vaksin wajib mengupayakan produksi vaksin halal dan mensertifikasi halal produk vaksinnya sesuai ketentuan peraturan perundang-perundangan, pemerintah harus menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan dalam imunisasi dan pengobatan, serta mengupayakan secara maksimal serta melalui WHO dan negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat islam dalam hal kebutuhan obat-obatan dan vaksin yang halal dan suci.

Untuk diketahui, dalam proses pembuatan vaksin, diibaratkan menanam padi, maka alat/ cangkul yg dipakai menggemburkan tanah saja yg mengandung unsur babi, setelah vaksin ditanam, "cangkul"tersebut sudah dimusnahkan. Sebelum vaksin dipanen, dilakukan pembersihan ratusan kali dan dalam jangka waktu puluhan tahun, sehingga pada saat vaksin digunakan sudah dalam keadaan suci dan tidak bersinggungan sama sekali dengan unsur babi.

Setelah dikeluarkannya keputusan terkait vaksin MR ini, diharapkan bisa menjadi acuan dalam pelaksanaan imunisasi MR di Indonesia khususnya di Provinsi NTB. Masyarakat sudah tidak perlu ragu lagi untuk memberikan vaksin MR tersebut, demi masa depan anak bangsa yang sehat.

Penyakit yang disebabkan oleh virus rubella, terutama bila menyerang ibu hamil dapat menyebabkan cacat luar biasa, buta dan tuli serta keterbelakangan mental pada anak. (Luk-tim media).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru