Kebangkitan Resistensi Tuberkulosis Harus Diwaspadai

Berdasarkan Global TB Report WHO 2011, indonesia berada pada urutan keempat dari negara dengan beban TB tertinggi di dunia,  dan urutan ke sembilan untuk beban multi drug resistance (MDR) di dunia. Hal ini yang kemudian menjadi latar belakang diadakannya Sosialisasi dan Advokasi TB Resisten Obat oleh Dinas Kesehatan Provinsi NTB (5/12). Bertempat di Grand Legi Mataram, acara ini dihadiri oleh perwakilan dari OPD Se-NTB. 

"Multi drug resistence atau Resistensi sendiri adalah suatu bentuk kekebalan virus terhadap obat. Dulu masalah TB telah berhasil dituntaskan, sekarang muncul lagi dalam bentuk kasus resistensi ini. Hal ini perlu diwaspadai dan diperhatikan bersama, sehingga sosialisasi dan advokasi ini perlu dilakukan," ujar Dr. Zainul Arifin M. PH selaku pemateri. 
 ‎
Drug-Susceptible TB atau obat yang dapat dikomsumsi penderita TB bisa didapatkan di setiap Puskesmas yang ada di Indonesia. Yang mana tingkat penyembuhannya mencapai 95%. Sayangnya,  virus TB ini makin lama makin kebal dengan obat tersebut dikarenakan ketidak konsistenan penderita untuk berobat. 

Di NTB sendiri kasus resistensi TB telah ditemukan sejumlah 17 kasus dalam kurun waktu 2017. Sehingga hal ini perlu diperhatikan bersama penanggulangannya. 

Hal ini tidak bisa disepelekan karena kerugian yang dihadapi oleh penderita TB yang mengalami resistensi sangat banyak. Di antaranya, peningkatan beban pembiayaan kesehatan secara signifikan. Kemungkinan kesembuhannya lebih kecil dari TB reguler. Peningkatan angka kematian. Sampai berpengaruh pada penurunan pendapatan pada sektor ekonomi dan pariwisata daerah.

"Tubercolosis bisa disembuhkan. Mari kita waspadai dan perhatikan bersama. Semangat bagi penderita untuk berobat!" ujar Dr. Ketut Artastra, MPH selaku pemateri terakhir. (nov)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru