Hati-hati dengan Iklan Suplemen Kesehatan dan Obat Tradisional

Mataram – Produsen pasti menyuguhkan kelebihan-kelebihan produknya dalam iklan yang mereka buat. Karena bukan iklan namanya jika tidak mengunggulkan suatu jenis produk. Hal ini patut diperhatikan, terlebih jika sudah menyangkut iklan suplemen kesehatan dan obat tradisional yang seringkali mengiklankan produknya secara berlebihan dan tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada, sehingga dapat merugikan bahkan membahayakan konsumen.

Berangkat dari masalah tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan Badan POM RI bekerjasama dengan Kominfo dan KPI pusat mengadakan sosialisasi dan penandatangan nota kesepahaman mengenai hasil pengawasan iklan dan ketentuan atau persyaratan iklan produk obat tradisional dan suplemen kesehatan (25/10). Sosialisasi ini dihadiri 135 peserta yang terdiri dari perwakilan KPID NTB, Instansi pemerintah, media cetak dan elektronik baik lokal maupun nasional di NTB, pelaku usaha obat tradisional dan suplemen kesehatan, serta dari balai besar POM itu sendiri.

“Masyarakat harus berhati-hati dengan iklan suplemen kesehatan dan obat tradisional! Jangan cepat percaya dengan embel-embel herbal. Saya pernah beli madu dengan harga tinggi, pas saya masukan ke kulkas madunya berubah jadi butiran-butiran,” cerita Wagub NTB, H.Muh. Amin. SH., M.Si,  saat memberikan kata sambutan.

Masyarakat dan produsen obat tradisional serta suplement kesehatan harus tahu dalam iklan tidak boleh mencatumkan testimoni dan rekomendasi, dikarenakan bagi setiap individu memiliki reaksi yang berbeda terhadap obat tradisional tertentu. Iklan juga tidak boleh mencatumkan rekomendasi dari suatu laboratorium, lembaga riset, instansi pemerintahan, organisasi profesi kesehatan, dan atau tenaga kesehatan. Serta, logo namainisial suatu lembaga atau instansi kesehatan, laboratorium atau perkumpulan profesi tenaga kesehatan.

Selain itu, iklan juga tidak boleh memasukan istilah-istilah ilmiah, statistik, dan atau grafik yang sebenarnya tidak ada atau tidak berhubungan dengan obat yang diiklankan. Mengingat banyak iklan obat dan supplement yang melakukan hal ini untuk menyesatkan masyarakat dengan menciptakan kesan berlebihan. Hal ini boleh dilakukan jika data statistic atau grafik tersebut memiliki data pendukung. Tanda bintang (*) atau tanda lain yang bermakna sama sehingga dapat menyesatkan dan membingungkan masyarakat serta gambar organ dalam tubuh yang tidak relevan juga tidak diperbolehkan.

“Semoga kerjasama dengan KPID ini bisa berjalan dengan baik, dan KPID bisa memberikan sangsi yang tegas terhadap pelanggar,” tutur Dra. Sri Utami Ekaningtyas, Apt.M.M saat menutup acara. (nov)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru