Awas, HIV/AIDS Hantui Masyarakat Dompu

Dompu – Perkembangan kasus Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kabupaten Dompu perlu diwaspadai oleh masyarakat, pasalnya virus mematikan tersebut saat ini menunjukkan gejala yang signifikan jika dilihat dari faktor peyebabnya.

Menurut data dari Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Kabupaten Dompu yang diungkapkan oleh Kasubbag  Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana dan Kesehatan Setda Dompu Dahlia Wahyuni, S.Sos., diruang kerjanya kemarin, mengatakan bahwa untuk tahun 2015, 1 orang positif terjangkit virus HIV. Angka tersebut tidak terhenti, karena masih ada hasil pemeriksaan sampel yang belum masuk. Kemudian, untuk sementara yang terjangkit virus AIDS  belum ada ditahun 2015. Namun yang perlu diketahui, salah satu faktor penyebab munculnya HIV/AIDS sekarang ini trendnya terus meningkat yakni penyakis Infeksi Menular Seks atau IMS.

Dari data yang ada, sekitar 27 kasus IMS ada dimasyarakat, parahnya, dari jumlah tersebut, 7 kasus menjangkiti pelajar tingkat SMA dan menjangkiti 1 orang pejabat. “Dan penyakit IMS condong mengalami peningkatan dari tahun ke tahun” ujar Kasubbag.

Tegasnya, penyakit IMS tidak boleh dipandang sebelah mata, karena IMS merupakan gerbang masuknya virus HIV/AIDS. Jika IMS tidak diobati, maka akan terbentuk virus HIV didalam tubuh. Kemudian, jika HIV diabaikan begitu saja, dan tidak dilakukan penangan serius, sudah otomatis akan berkembang menjadi virus AIDS. Apalagi gejala HIV/AIDS tidak terlihat secara kasat mata, namun terlihat sehat-sehat saja seperti keadaan normal.

Walaupun HIV/AIDS mengalami penurunan, dimana ditahun 2014 terdapat 3 kasus HIV dan meninggal dunia, namun perlu diwaspadai.

Kata Wahyuni, ada beberapa faktor penyebab munculnya penyakit IMS seperti seks bebas karena pergaulan bebas dan narkoba. Sedangkan HIV/AIDS, selain karena faktor IMS, juga faktor pemberian ASI bagi Ibu yang menderita HIV/AIDS, lalu eksodus dari luar misalnya dari Sumbawa atau penderita HIV eksodus dari lokalisasi Dolly di Surabaya, karena mereka tersebut menyebar kemana-mana termasuk di Dompu. Dari merekalah sumber penyakit mematikan tersebut.

Karena penyakit HIV/AIDS untuk saat ini belum ada obatnya, Pemerintah khususnya KPAD hanya aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan faktor penyebab IMS dan HIV/AIDS, bahayanya, kemudian informasi pelayanan dan pengobatan.

Walaupun belum ada obat untuk penyembuhannya, namun untuk sementara penanganan terhadap penderita HIV/AIDS, Pemerintah hanya bisa memberikan anti retroviral (ARV), yakni semacam obat yang berfungsi memberi harapan hidup yang lebih panjang. ARV tersebut dilakukan dalam upaya penanganan yang dilakukan sampai dua bulan. Selain itu, juga dilakukan pendampingan nutrisi terhadap korban.

Ditegaskannya lagi, masyarakat agar berhati-hati terhadap IMS, karena IMS merupakan pintung gerbang masuknya virus HIV/AIDS kedalam tubuh. Oleh sebab itu, kami di Pemerintahan menghimbau dan mengajak kepada masyarakat untuk menghindari faktor-faktor penyebab IMS maupun HIV/AIDS, jika terlanjur sudah terjangkiti, maka segera mungkin untuk mengunjungi pelayanan terdekat agar dapat diidentifikasi, diberikan pelayanan dan pendampingan secara khusus, pinta Wahyuni. Hal serupa juga diutarakan oleh Kepala Dinas Kesehatan H. Gatot Gunawan, SKM., jika masyarakat terjangkit virus HIV/AIDS, maka bersegeralah ke Rumah Sakit untuk diperiksa. Lanjutnya, upaya meminimalisir penyakit seksual juga dilakukan oleh instansinya seperti mengadakan kegiatan sosialisasi.   

Masih Wahyuni, KPAD dengan anggaran yang minim yakni hanya 100 Juta untuk penggajian pegawai, kegiatan sosialisasi dan pendampingan, namun tetap optimal melakukan hal positif untuk masyarakat dalam konteks penanganan HIV/AIDS.  

Baru-baru ini, pemerintah pusat dan daerah menggelar Pertemuan Nasional (Pernas) penanggulangan HIV/AIDS di Makassar tanggal 27 sampai dengan 29 Oktober. Dari kegiatan tersebut, pemerintah pusat menghimbau kepada pemerintah daerah agar persoalan HIV/AIDS harus ditangani secara optimal.

“Harus, wajib hukumnya pemerintah memperhatikan masalah tersebut, dan harus memberikan jaminan” tutur Wahyuni, mengutip rekomendasi Pernas tersebut.

Katanya, dalam upaya menanggulangi HIV/AIDS di daerah, pusat hanya membantu dalam hal pengobatan. Karena terkendalan anggaran, oleh sebab itu tahun anggaran 2016, KPAD ingin meminta anggaran yang lebih besar.

Sekali lagi, “Masyarakat jangan malu untuk memeriksa dipelayanan terdekat supaya bisa dilakukan pengobatan. Kalau cepat melakukan  pemeriksaan dan penanggulangan maka bisa diperpanjang harapan hidupnya”. HIV/AIDS tidak dapat diobat hanya diminimalisir dan diperpanjang harapan hidup penderitanya” dia mengingatkan. [] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru