Miskin Bukan Harus Sakit

KM. Pondok Kalua - Tingginya tingkat kemiskinan yang disandang kabupaten Lombok Utara sebagai peringkat pertama dari seluruh kabupaten kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi dasar terjadinya ledakan Gizi Buruk pada tahun 2012 lalu hal itu diungkapkan Bupati KLU H. Djohan Sjamsu, SH pada Jumpa pers 5/ 12 diruang kerjanya.

Selain itu kasus ledakan gizi buruk pada tahun itu membuat pemerintah daerah dalam penanganannya melibatkan semua stake holder termasuk melibatkan pengusaha. Dengan Selogan gerakan sejuta telur untuk gizi buruk yang diusung cukup mampu menekan kasus gizi buruk yang melanda KLU dalam waktu satu tahun hingga 93 hingga 98 persen.

“kalaupun saat ini masih ada satu atau lebih yang menderita gizi buruk, itu bukan disebabkan kemiskinan, tetapi murni adalah penyakit”. Lebih jauh H. Djohan Sjamsu menjelaskan kondisi masyarakat pada ledakan kasus gizi buruk tahun 2012 disebakan karena kemiskinan tetapi pemda pada saat itu pula sudah melakukan MOU dengan pemerintah peropinsi bersama seluruh kabupaten kota yang ada di NTB untuk menurunkan kemiskan.


Berdasarakn MOU tersebut sambungnya membuat KLU menjadi daerah pertama yang mampu menurunkan kemiskinan hingga 8 persen dari MOU 7 persen yang disepakati bersama, sehingga dari 43, 17 persen lebih masyarakt KLU yang hidup pada garis kemiskinan pada tahun 2012 berkurang 7 persen. Tentu capaian tersebut menjadi catatan penting pemprop kepada pemda KLU sebagai satu keberhasilan, urainya

Dirinya juga tidak menampik selain kasus gizi buruk yang dihadapi pemda KLU, Bupati h. Djohan mengakui alokasi 7 persen Anggaran Penggunaan Belanja Daerah (APBD) atau setara 42.499.905.913 rupiah dari APBD KLU 606, 02 miliar yang ditentukan DPR pada tahun ini untuk dinas kesehatan masih belum cukup untuk mengantarkan masyarakat KLU seluruhnya menikmati hidup sehat, dengan kekerungan itu sebagai orang nomer satu di KLU dirinya menghimbau kesehatan hanya dapat dicapai masyarakat KLU dengan wajib menerapkan pola hidup sehat, himbaunya

Dikesempatan yang sama kepala Dinas kesehatan (Dikes) KLU dr. Beny Nugroho, mengungkapkan persoalan kesehatan di KLU menjdai sekla perioritas pembangunan bagi pemda KLU. Sekala perioritas itu mewajibkan dirinya bersama seluruh jajaran dikes bekerja keras.

Selain itu Beny juga menyatakan gren strategy yang diusung untuk perogram skala perioritas itu dengan menggerakan dan memberdayakan masyarakat KLU untuk hidup sehat dan melibatkan seluruh desa menjadi desa siaga, berperilaku hidup bersih dan sehat, posyandu D/ S 100 persen seluruh ibu hamil mendapatkan pelayanan ANC K1- K9 serta mendekatkan masyarakat pada akses pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Lebih jauh dirinya mengatakan jaminan kesehatan masyarakat KLU akan dilakukan dengan memaksimalisasi keterlibatan masyarakat dalam BPJS. “Miskin bukan berarti sakit, ini moto dikes KLU saat ini”, tambahnya

Kebijakan pelayanan kesehatan KLU dengan daerah lain dengan menerapkan system dalam satu desa ada dua bidan desa dan merivitalisai posyandu serta pembangunan puskesmas satu kecamatan dua puskesmas hanya kecamatan Tanjung masih satu puskesmas karena akses pelayanan kerumah sakit daerah (RSUD) dekat.

Menyinggung ditemukannya kasus gizib buruk yang terjadi saat ini kadikes menjawab sejalan dengan bupati sebabnya adalah bukan karena kemiskinan tetapi disebabkan penyakit yaitu TBC, saat ini dikes telah menyediakan pelayanan kesehatan dengan satu puskesmas dua dokter dengan satu dokter sepesialis gigi dan stanbay selama 24 jam di pusat pelayanan kesehatan masyarakat (puskesmas) yang ada, pungkasnya (nonong) - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru