Kemiskinan di Kecamatan Poto Tano

KM instan: Tidak banyak terlihat aktifitas ditempat yang sepi dipinggir pantai Pasir Putih Desa Poto Tano. Hanya beberapa orang ibu dan seorang laki-laki tua yang tengah melepaskan lelah dipondok lusuh yang terbuat dari pelepah daun kelapa. Lokasi ini tidak begitu jauh dari hiruk pikuknya pelabuhan Poto Tano, sementara sekitar 300 meter dari tempat ini ada sekelompok masyarakat yang sedang mengadakan demonstrasi pembentukan Propinsi Pulau Sumbawa. Mereka lepas dari perhatian pemerintah maupun pihak-pihak yang selalu mengatasnamakan rakyat.Mereka tidak membutuhkan pembelaan yang berlebihan dari siapapun yang mengatas namakan dan menjual kemiskinan mereka hanya utuk kepentingan tertentu. Para penambang batu ini sadar bahwa keaadaan mereka selalu menjadi jualan empuk sehingga mereka sudah tidak tertarik lagi dengan hal-hal yang terjadi ,  semua mereka akan tetap menjadi penambang batu.
Pak Man adalah panggilan dari salah seorang penambang batu di tempat ini menceritakan bahwa setiap hari mulai jam 06.00 wita. Kami sudah berada dilokasi ini untuk menggali batu setelah itu batu dipecah-pecah dengan berbagai ukuran, harga batu per-dam adalah Rp 500.000. satu dam itu diperoleh sampai 2 minggu lamanya itupun dibagi dengan beberapa orang. Ketika sudah sore mereka pulang ke kampung di desa Poto Tano.

Saat ditanya tentang tanggapannya terhadap demonstrasi yang terjadi di mereka menanggapinya dingin dengan mengatakan itu urusan mereka yang punya kepentingan bagi kami hanya sesuap nasi dan menyambung hidup serta membesarkan anak anak.

Kondisi seperti ini harus mendapat perhatian yang serius dari pemerintah  karena mereka sangat membutuhkan bantuan untuk menyambung hidup, sebagaimana yang selalu dikumandangkan bahwa Kabupaten Sumbawa Barat adalah kabupaten yang kaya akan hasil tambang dengan harapan mereka mendapatkan sedikit percikan dari hasil pembangunan di daerah ini. (Uyik)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru