logoblog

Cari

Program Kampung KB Tak Mampu Tekan Angka Kelahiran Di Dompu?

Program Kampung KB Tak Mampu Tekan Angka Kelahiran Di Dompu?

KM Bali 1, Dompu-Program KB pada akhirnya berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan penduduk. Kesejahteraan penduduk dapat dicapai dengan menyeimbangkan ketersediaan sumber daya

Kesehatan

KM. Bali 1
Oleh KM. Bali 1
22 September, 2019 15:01:17
Kesehatan
Komentar: 0
Dibaca: 1955 Kali

KM Bali 1, Dompu-Program KB pada akhirnya berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan penduduk. Kesejahteraan penduduk dapat dicapai dengan menyeimbangkan ketersediaan sumber daya alam dengan jumlah populasi penduduk yang tinggal dalam suatu wilayah. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah adalah dengan menerapkan metode Penjarangan kelahiran Ibu pada masa Usia Suburnya melalui Program Keluarga Berencana (KB)

Dalam Program KB yang terus digalakkan Pemerintah di Kabupaten Dompu Khususnya melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), kini telah menghasilkan dibentuknya 19 Kampung KB di Kabupaten Dompu. Dampaknya, jumlah peserta KB aktif meningkat secara drastis tiap tahunnya.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh Koran Kampung Media Dompu di Dua Kecamatan saja yakni Kecamatan Dompu dan Woja, jumlah peserta KB di Kecamatan Dompu per Desember 2018 mencapai 8258 orang atau 97,31% dari total Pasangan Usia Subur (PUS) yang berjumlah 8.486 pasangan yang menjadi target Program KB. Laporan tersebut dikeluarkan oleh DPPKB UPT Kecamatan Dompu.

Sementara itu, di Kecamatan Woja, capaian jumlah peserta KB berdasarkan laporan resmi UPT DPPKB Kecamatan Woja pada januari 2018, jumlah PUS yang menjadi peserta KB mencapai angka 8.269 orang dari total 9.881 PUS atau sebanyak 83,63%.

Pencapaian ini mengantarkan Kampung KB yang berada di Kecamatan Woja yakni Kampung KB Desa Wawonduru berhasil meraih peringkat 5 Besar Kampung KB terbaik Tingkat Nasional.

“Seperti wawonduru, Kenapa Wawonduru dicanangkan Kampung KB, karena tingkat pencapaian peserta KB di sana rendah. Setelah ada Kampung KB, baru ada peningkatan. Bahkan Aseptor KB sudah mengenal MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang_red)”, Ungkap Abdul Hamid Kepala UPT DPPKB Kecamatan Woja saat dikonfirmasi di ruang kerjanya Kamis, (5/9) belum lama ini.

Namun benarkah Program pencanangan Kampung KB ini telah cukup signifikan dalam upaya pengendalian pertumbuhan penduduk terutama dalam menekan angka Kelahiran bayi tiap tahunnya?

Berdasarkan data yang diperoleh dari Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dikes) Dompu memperlihatkan jumlah kelahiran bayi pada tahun 2016 adalah sebanyak 5.474 kelahiran. Jumlah ini kemudian meningkat menjadi 5.713 kelahiran pada akhir tahun 2017. Sementara itu, pada tahun 2018 angka kelahiran mencapai 5.819 atau selisih 106 kelahiran dari tahun sebelumnya.

Tidak hanya itu, peningkatan angka kelahiran ini diprediksikan akan meningkat drastis di tahun 2019. Data Kelahiran dari sumber yang sama memperlihatkan bahwa pada akhir bulan Juni 2019 ini saja, angka kelahiran di Kabupaten Dompu sudah mencapai 3.403.

Peningkatan ini juga diakui oleh Yayat Nurhidayat, S.KM Kabid Pengendalian Penduduk Penyuluhan dan Penggerakan (PPPP) Dinas PPKB Dompu. Namun Yayat saat dikonfirmasi di Ruang kerjanya Jum’at, (13/9) lalu menyebutkan bahwa peningkatan angka kelahiran tersebut tidak terlalu berpengaruh pada pertumbuhan penduduk karena angka itu masih jauh dibawah royeksi jumlah penduduk Kabupaten Dompu pada tahun 2019 yang diperkirakan akan mencapai 240.338 jiwa.

 “Proyeksi kita tahun 2019, jumlah penduduk akan mencapai 240.338 jiwa dengan jumlah proyeksi ibu hamil mencapai 6.080. setiap tahun secara komulatif jumlah penduduk bertambah termasuk jumlah bayi yang lahir. Namun tiap tahunnya real bayi lahir masih dibawah proyeksi 6.080 tahun 2019 ini. Begitu juga dengan sebelumnya”, Jelas Yayat.

 

Baca Juga :


 Tidak hanya itu, Kasus meningkat drastisnya Kelahiran Bayi di salah satu Kampung KB yakni di Desa Mbawi Kecamatan Dompu mengundang pertanyaan public terkait efektifitas pelayanan KB di Desa Kampung KB yang dicanangkan sejak tahun 2016 itu. Berdasarkan data dari POSKESDES Desa Mbawi, bayi yang lahir pada tahun 2017 di Desa tersebut berjumlah 78 bayi, sedangkan pada tahun 2018 berubah menjadi 80 kelahiran bayi. Jumlah ini kemudian meningkat secara mengejutkan pada hasil laporan sampai bulan Juli 2019 di Desa setempat yang sudah mencapai angka 153 kelahiran. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat hingga pada akhir tahun 2019 ini.

Menanggapi hal tersebut Kabid PPPP Dinas PPKB Dompu Yayat Nurhidayat menerangkan peningkatan ini dipengaruhi oleh sikap warga berprofesi sebagai petani yang lebih sering berada di areal perladangannya sehingga menyulitkan para petugas pelayanan KB untuk melakukan kunjungan ke rumah warga,

“Alasannya ada beberapa kegiatan TKBK pelayanan kami yang tidak dihadiri warga karena banyak masyarakat yang ke Lahan pertaniannya sehingga kami tidak bisa melakukan kunjungan rumah”, ungkapnya.

Selain itu, Yayat mengungkapkan bahwa tahun 2019 ini banyak sekali pasangan muda yang menikah. Pihaknya juga sudah mengkonfirmasikan hal tersebut ke Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Dompu dan membenarkan bahwa terjadi peningkatan secara signifikan pasangan asal desa Mbawi yang menikah tahun ini.

“Kalau di Mbawi itu, kami tetap melakukan pelayanan TKBK, dan Pelayanan KB Keliling. Tren masyarakat saat ini banyak sekali yang menikah. Sehingga kami Cross Check dengan teman-teman KUA Kecamatan Dompu, itu memang di Mbawi meningkat sekali dibanding yang lain. Karena ini pasangan baru, kami tidak berani menawarkan sebagai peserta KB, tetapi setelah melahirkan itu, kami sudah menawarkan kalau bisa selesai melahirkan ini, ikuti KB”, ulas Yayat.

Yayat juga menyinggung terkait aturan seperti perundang-undangan yang kurang mendukung program KB ini. Yayat menjelaskan usia yang baik untuk menikah bagi perempuan adalah saat sudah berusia 21 tahun sedangkan bagi pria sebaiknya berusia di atas 25 tahun. Namun pihaknya tidak mungkin mengintervensi pihak KUA yang  juga mengacu pada peraturan Perundang-undangan yang membolehkan perempuan menikah pada usia 16 tahun sedangkan bagi pria berusia 18 tahun.

“Sebenarnya kami di KB ini mengharapkan bagaimana seorang perempuan itu bisa menika diumur 21 tahun, yang laki-laki di atas 25 tahun. Tetapi kendala kami, kami tidak bisa mengintervensi KUA atau Kemenag. Karena ada aturan di buku nikah itu, seorang perempuan bisa dinikahkan di atas umur 16 tahun, kalau yang laki-laki 18 tahun”, terangnya.

Namun pihaknya terus berupaya mengedukasi masyarakat agar tidak menikah pada usia dibawah 21 tahun karena bisa beresiko bagi kesehatan Ibu maupun bayi yang dikandungnya.[Oz]



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan