logoblog

Cari

BPOM Mataram Gagalkan Peredaran Pil Halusinasi

BPOM Mataram Gagalkan Peredaran Pil Halusinasi

Peredaran narkotika dan obat-obatan ilegal di Provinsi Nusa Tenggara Barat semakin mengkhawatirkan dan merasahkan masyarakat, karena dapat merusak generasi Emas NTB.

Kesehatan

EDY IRFAN
Oleh EDY IRFAN
26 Juni, 2019 15:08:12
Kesehatan
Komentar: 0
Dibaca: 629 Kali

Peredaran narkotika dan obat-obatan ilegal di Provinsi Nusa Tenggara Barat semakin mengkhawatirkan dan merasahkan masyarakat, karena dapat merusak generasi Emas NTB. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Mataram mengamankan sebanyak 15.000 papan pil Trihexyphenidyl ilegal dengan nilai Rp.150.000.000, dari  tangan 3 tersangka di Gomong Mataram.

Hal tersebut disampaikan Kepala BPOM di Mataram Dra. Ni GAN Suarningsih, Apt., MH. Saat menyampaikan press converence Selasa (25/6),  terhadap operasi tindakan pemberantasan obat illegal dan penyalahgunaan obat untuk melindungi masyarakat dari peredaran produk obat dan makanan illegal/tidak memenuhi ketentuan.  Didampingi 2 personil Ditreskrimsus Polda NTB, Kepala BPOM di Mataram menyatakan bahwa hal ini juga menindaklanjuti kegiatan Pencanangan Aksi Nasioaal Pemberantasan Obat illegal dan Penyalahgunaan Obat oleh Bapak Presiden Joko Widodo di Bumi Perkemahan  Cibubur pada tanggal 3 Oktober 2017 yang lalu.

Menurut Kepala BPOM di Mataram Dra. Ni GAN Suarningsih, Apt., MH, Obat-obat yang diamankan adalah obat  ilegal  pereda rasa sakit Trihexyphenidyl merupakan obat penenang untuk mengobati penyakit Parkinson. Kalau dipakai secara berlebihan dapat menimbulkan efek negatif seperti halusinasi, efek berprilaku negatife menjadi lebih berani, kriminal dan itu akan membuat siapapun yang mengkonsumsi menjadi tidak produktif. “Bisa dibayangka dampak dari pil Trihexyphenidyl illegal ini, bila 1 orang mengonsumsi 1 papan Trihexyphenidyl sebanyak strip @ 10 tablet, maka ada 1.500 orang remaja dan generasi muda yang terkena keracuan akibat penyalagunaan obat ilegal yang tidak terdaftar dalam BPOM ini,” jelas Ni GAN Suarningsih.

Ciri-ciri obat  ilegal  pereda rasa sakit Trihexyphenidyl ini, kemasannya lebih kecil dari yang asli dan warnanya berbeda dari yang asli, strip pada obat tersebut hitam-hitam, sedangkan yang asli strip warna hijau dan coklat. Obat  ilegal  ini warnanyapun mencolok dan berbeda dengan yang terdaftar di BPOM.

Obat-obatan palsu ini akan berakibat kepada kualitas manuasia indonesia, obat palsu tersebut kerap digunakan oleh banyak pelaku tindak pidana sebelum melakukan kejahatan. Perkelahian, kecelakaan lalu lintas, mereka mengaku menggunakan obat illegal. “Penggunaan obat ini, biasanya diminum 3-4 biji, dicampur kopi atau soda, sehingga efeknya pengguna tersebut berhayal dan berhalusinasi,  mirip pengaruh Dextron atau Tramadol,” tuturnya.

Modus peredaran obat ini dengan menjual produk langsung kepada remaja dan anak-anak. Pada awal tahun 2019 bulan Januari yang lalu, telah diamankan 2 tersangka yang mengedarkan obat  ilegal  pereda rasa sakit Trihexyphenidyl. BPOM bekerjasama dengan Polda NTB terus mengembangkan jaringan pengedar dan actor intelektual dari pengirim dan pemasok obat illegal ini. Tersangka akan dikenakan Pasal 197 dan Pasal 196 UU nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Jo. Pasal 53 KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 15 tahun dan atau denda maksimal 1,5 milyar.  “Awal Januari lalu 2 orang pengedar ditangkap dan sudah diproses, kemudian Juni ini tertangkap lagi, actor intelektualnya masih sama, orang yang pernah tinggal di NTB namun telah eksodus keluar dari NTB. Kalau dilihat dari jejak digitalnya kadang-kadang di Jakarta dan kadang di Padang daerah Sumatera, hal  ini telah kami laporkan BPOM RI agar segera ditelusuri,” ungkapnya.

 

Baca Juga :


Keberhasilan mengungkap dan menangkap peredaran  obat  ilegal  ini, atas informasi dari masyarakat. Kasus ini terus didalami dengan pemeriksaan saksi-saksi dan tersangka oleh tim gabungan dari Polda NTB dan BPOM di Mataram.  “Informasi actor pemasok dan pengirim juga yang didapatkan dari tersangka SM dan CGB, bahwa obat illegal ini rencana sebarannya di wilayah Kota Mataram di Gomong,  Dasan Agung dan di Kediri Kabupaten Lombok Barat.

Tingginya angka temuan mengidikasikan bahwa supply dan demand terhadap ketersediaan farmasi illegal masih tinggi. Hal ini disebabkan karena produk ilegal diperoleh dengan harga lebih murah tetapi bisa dijual kembali dengan harga yang jauh lebih mahal, mudahnya akses pembelian (secara online) menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat  karena segi kepraktisannya. Kurangnya pemahaman masyarakat sehingga tidak mengetahui jenis obat illegal yang beredar. Pemerintah harus terus mensosialiasikan dan memberikan edukasi kepada masyarakat secara terus menarus dan masif tentang bahaya Narkoba dan obat illegal yang terus beredar ditengah lingkungan masyarat.

BPOM di Mataram dan Polda NTB menghimbau masyarakat agar peduli terhadap lingkungan. Mengawasi gerak gerik apabila ada orang yang mencurigakan menjual, mengedarkan dan menggunakan Narkoba dan obat-obat illegal. Masyarakat dihimbau juga untuk senantiasa menjadi konsumen yang cerdas dengan senantiasa melakukan pengecekan kemasan, izin edar dan tanggal kadaluarsa pada produk obat dan makanan yang dibeli. “Bila menemukan hal-hal yang mencurikan laporkan kepada apparat yang berwenang, termasuk apotik atau tempat yang menjual obat  ilegal  pereda rasa sakit Trihexyphenidyl, termasuk jenis obat seperti tramadol,” tutup Kepala BPOM di Mataram. (Edy-Tim Media)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan