logoblog

Cari

Multisektoral Untuk Pengendalian Rabies

Multisektoral Untuk Pengendalian Rabies

Komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia yang memadai serta pengendalian program terencana dengan baik merupakan kunci keberhasilan

Kesehatan

Suparman
Oleh Suparman
05 April, 2019 13:09:54
Kesehatan
Komentar: 0
Dibaca: 833 Kali

Komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia yang memadai serta pengendalian program terencana dengan baik merupakan kunci keberhasilan eliminasi wabah rabies di suatu daerah, terutama di Provinsi NTB. Untuk itu, Kementerian Kesehatan RI yang didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memperkuat koordinasi multisektoral dalam pengendalian Rabies di NTB.

"Beberapa upaya yang telah kami lakukan, baik itu dari Sektor Kesehatan dan Kesehatan Hewan untuk mengendalikan penyebaran wabah Rabies seperti investigasi terpadu, pemberian vaksin dan serum anti Rabies," ungkap Kepala Subdirektorat Zoonosis Kemenkes, drh. Sitti Ganefa Pakki pada pertemuan multisektoral di Lombok Astoria Hotel, Mataram (4/4).

Ia mengatakan bahwa kegiatan vaksinasi dan eliminasi untuk hewan penular rabies, kampanye rabies, pelatihan dan lain-lain terus digencarkan oleh Pemerintah pusat, daerah dan kabupaten kota se-NTB. Edukasi yang memperkuat kesehatan masyarakat, kesehatan hewan dan kesehatan satwa liar dan para pemangku kepentingan lainnya untuk deteksi dini dengan memberikan respon cepat terhadap penyebaran Rabies.

Sampai dengan akhir tahun 2018, di Indonesia terdapat 26 provinsi daerah penyebaran rabies dan hanya delapan provinsi yang dinyatakan bebas rabies diantaranya Provinsi NTB, Papua, Papua Barat, Bangka Belitung, Riau, DKI, Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan NTB, Dr. Nurhandini Eka Dewi mengungkapkan, secara histori, Provinsi NTB merupakan salah satu daerah bebas Rabies. Namun, pada pertengahan Bulan Januari 2019 dilaporkan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) wabah Rabies yang pertama kali muncul di Kabupaten Dompu. Sampai dengan 1 April 2019 jumlah kasus gigitan hewan penular rabies sebanyak 1.183 kasus dan 6 kematian dengan gejala klinis yang mengarah pada diagnosis Rabies, serta Rabies pada hewan posistif Rabies sebanyak 67 ekor.

 

Baca Juga :


"Selama tiga bulan ini, kami telah membentuk tim pengendalian Rabies tingkap kabupaten kota, pengendaliam populasi Hewan Penular Rabies seperti Anjing, Kucing dan Kera sampai ke tingkat desa dengan melibatkan TNI Polri dan masyarakat, pemeriksaan sampel HPR di desa-desa beresiko tinggi, pemberian Vaksin Anti Rabies dan Serum Anti Rabies pada kasus gigitan sesuai pedoman serta sosialisasi kepada masyarakat," ungkapnya sekaligus membuka kegiatan.

Dari uji laboratorium sampel otak hewan penggigit oleh Balai Besar Veteriner (BBV) Denpasar, hewan tersebut positif rabies. Saat ini KLB Rabies di NTB telah menyebar sampai ke Kabupaten Bima dan Sumbawa. Untuk itu sangat diperlukan sinergitas untuk meningkatkan koordinasi multisektoral pengendalian penyakit rabies ini.(Man-Tim Media)



 
Suparman

Suparman

nama Suparman, biasa di panggil Man. lahir di desa O,o Kec. Dompu, Kab. Dompu pada Tanggal 12 Februari 1992. anak pertama dari enam saudara. saya lahir dari pasangan Bapak A. Talib dengan Ny. Uniriyah. No HP 085337689025

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan